Kibaan.co: Aceh Bart – Pengangkutan limbah oleh PT SCY yang melintasi jalur pendidikan di kawasan Kampus Universitas Teuku Umar (UTU) dan STAIN Meulaboh menuai protes keras dari masyarakat dan mahasiswa. Warga Desa Gunong Kleng bahkan melakukan aksi penghadangan terhadap kendaraan pengangkut limbah tersebut.
Keuchik Desa Gunong Kleng, Ainal Mardiah, S.Pd, mengungkapkan bahwa aktivitas pengangkutan limbah tersebut telah berlangsung selama kurang lebih dua bulan tanpa adanya izin atau pemberitahuan kepada pihak desa.
“Sudah beberapa minggu masyarakat memberi teguran, namun tidak diindahkan. Bahkan aktivitas ini sudah berjalan sekitar dua bulan sebelum akhirnya diadakan rapat, itu pun secara mendadak”,ujarnya
Menurutnya, limbah yang diangkut berasal dari salah satu perusahaan Nagan Raya dan diklaim oleh pihak perusahaan sebagai limbah non-B3, bukan batubara. Namun, masyarakat tetap merasa khawatir terhadap dampak yang ditimbulkan, terutama terkait keselamatan pengguna jalan
Ainal Mardiah menegaskan bahwa penggunaan jalur pendidikan untuk pengangkutan limbah dan kendaraan bertonase besar sangat membahayakan, khususnya bagi mahasiswa
“Sudah sering hampir terjadi kecelakaan. Mahasiswa nyaris ditabrak oleh kendaraan besar. Ini jelas mengancam keselamatan”, tegasnya
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa pihak perusahaan berdalih jalan yang digunakan merupakan milik negara, sehingga merasa tidak perlu meminta izin dari desa. Bahkan, perusahaan disebut mengancam akan menempuh jalur hukum jika pengangkutan dihalangi
Meski demikian, masyarakat bersama mahasiswa tetap bersikukuh menolak aktivitas tersebut. Aksi penghadangan telah dilakukan hari ini, dan warga berkomitmen akan terus mempertahankan penolakan jika pengangkutan masih dilanjutkan
“Kami akan tetap bertahan jika besok masih ada pengangkutan. Ini demi keselamatan masyarakat dan mahasiswa”,tambahnya.
Pihak desa dan masyarakat juga meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, khususnya Bupati, untuk tidak memberikan izin pengangkutan limbah melalui jalur pendidikan karena dinilai berisiko tinggi
Ainal Mardiah juga mempertanyakan kebijakan perusahaan yang menggunakan jalur tersebut
“Kenapa harus lewat jalur pendidikan? Ini bukan jalur untuk kendaraan alat berat”, tutupnya
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak PT SCY maupun pemerintah daerah terkait polemik tersebut







