Jembatan Sikundo Aceh Barat Ambruk, Warga Pakai Jembatan Tali Kabel Listrik

Kibaan.co : Aceh Barat – Di balik keheningan Gampong Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, tersimpan kisah pilu warganya yang bertahan di tengah keterbatasan infrastruktur.

Sejak jembatan permanen penghubung desa roboh diterjang banjir bandang November 2025, akses warga menuju dunia luar terputus dan harus digantikan jembatan tali darurat yang membahayakan nyawa.

Linda, ibu empat anak yang menetap di desa tersebut sejak 2017, tak kuasa menahan kesedihan saat menceritakan kondisi kampungnya.

“Kalau dibilang sedih, sebenarnya kami di sini sangat sedih. Bukan karena jauh dari kota, tapi karena akses jalan yang rusak parah dan sangat sulit dilalui,” ungkap Linda saat diwawancarai, Kamis (23/7/2026).

Banjir bandang November 2025 meluluhlantakkan jembatan permanen hasil kolaborasi pemerintah dan Yayasan Buddha Tzu Chi. Jembatan yang selama ini menjadi urat nadi desa itu kini hanyut terbawa arus.

Sebagai alternatif, warga bergotong royong membentangkan jembatan tali seadanya dari jalinan kabel listrik dan kabel baja. Kondisi ini sangat berisiko, terutama bagi anak-anak.

Akibatnya, SD di Dusun Sarah Seri terpaksa dipindahkan sementara ke balai desa untuk menghindari jatuhnya korban jiwa.

Rusaknya infrastruktur berdampak langsung pada layanan dasar. Jalanan desa dipenuhi lubang dalam dan licin saat hujan. Linda mengaku pernah terjatuh karena kondisi jalan yang ekstrem.

“Kalau ada warga sakit, kami harus berobat jauh ke Puskesmas dengan kondisi jalan seperti ini. Anak saya kelas 6 SD juga harus mengungsi belajar di balai karena sekolahnya terdampak jembatan putus,” tuturnya.

Dari sisi ekonomi, kehidupan warga kian sulit. Suami Linda bekerja sebagai petani serabutan dengan pendapatan tidak menentu. Untuk menopang dapur, Linda membuka warung kelontong kecil di lahan milik warga yang dipinjamkan mantan Keuchik Jauhari.

Namun warung itu sepi pembeli karena jumlah penduduk sedikit dan modal terbatas. Bantuan sembako dan BLT pascabencana yang sempat mengalir kini juga sudah berhenti sejak jalur darat, meski rusak, kembali bisa dilalui.

Mewakili warga, guru, dan anak-anak sekolah Sikundo, Linda menyampaikan dua harapan utama kepada pemerintah daerah dan pusat:

Warga mendesak pemerintah segera membangun jembatan yang layak dan aman. Jembatan permanen sangat krusial untuk mobilitas anak sekolah, guru, dan petani mengangkut hasil pertanian.

Linda berharap Dinas Sosial merespons proposal permohonan modal usaha yang pernah diajukan. Bantuan ini diharapkan bisa menggerakkan ekonomi keluarga agar mandiri secara finansial.

“Warga Sikundo tidak meminta kemewahan kota. Kami hanya mendambakan hak dasar: infrastruktur yang layak, aman, dan memanusiakan kami di pelosok Aceh Barat,” pungkas Linda.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *