Kibaan.com: Nagan Raya – Terkait Keluhan Warga Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya yang beredar di media Sosial memilih membangun rumah secara mandiri pascabanjir yang melanda wilayah tersebut. Keputusan ini diambil lantaran hunian sementara (huntara) yang dijanjikan hingga kini belum tersedia.
Rusli, salah satu warga terdampak, mengatakan dirinya tidak bisa terus menunggu realisasi pembangunan huntara yang belum jelas waktunya.
“Kami mendirikan rumah sendiri, kalau ditunggu barak atau hunian sementara tak kunjung siap. Kemarin dijanjikan puasa siap, tapi nyatanya hari ini kami belum bisa tempati,” ujarnya dikutip dari AJNN.
Ia mengungkapkan, lahan yang kini ditempatinya bukan milik pribadi. Demi memiliki tempat tinggal, Rusli terpaksa membeli tanah tersebut secara sederhana menggunakan kuitansi dari pemilik lahan, meski harus berutang.
“Ini awalnya bukan tanah kami. Kami terpaksa belinya dengan teken kuitansi kepada pemilik tanah. Walaupun tidak punya uang, terpaksa harus berutang dulu,” katanya.
Menurut Rusli, fasilitas hunian sementara juga dinilai kurang layak untuk ditempati dalam jangka panjang. Ia menilai kondisi huntara tidak memberikan kenyamanan, terutama saat cuaca ekstrem.
“Kalau pun dibangun huntara, siang panas dan malam kedinginan,” sebutnya.
Kondisi tersebut membuat dirinya dan warga lain tidak bisa sepenuhnya bergantung pada bantuan pihak lain dalam memenuhi kebutuhan tempat tinggal.
“Artinya, kita tidak bisa terlalu berharap kepada orang lain,” ucapnya.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Nagan Raya Melalui Kepala BPBD, Irfandi, menyebutkan pada 19 Januari 2026 bahwa pembangunan huntara untuk pengungsi di Beutong Ateuh Banggalang ditargetkan rampung sebelum Ramadhan. Namun hingga kini belum ada kepastian terkait penyelesaian proyek tersebut.
Saat dikonfirmasi kembali pada Selasa, 31 Maret 2026, Melalui whatsapp Irfandi menyatakan pihaknya belum mengetahui secara pasti kapan seluruh huntara akan siap digunakan.
“Kami dari pihak BPBD Nagan Raya hanya sebagai penerima manfaat. Terkait progres dan kapan siap itu kewenangan BNPB, mungkin mereka yang bisa menjawab. Maka dari itu belum bisa kita pastikan,” ujar Irfandi.
Ia menambahkan, progres pembangunan huntara di lapangan saat ini diperkirakan telah mencapai sekitar 85 hingga 90 persen.
Sementara itu, pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) belum memberikan keterangan resmi terkait kepastian penyelesaian hunian sementara tersebut meskipun sudah dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Selasa (31/3/2026).







