Kibaan.co: Nagan Raya – Deru sungai yang tiba-tiba berubah menjadi amukan lumpur dan kayu kembali membawa kabar pilu dari dataran tinggi Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Banjir bandang yang menerjang wilayah yang pernah dikenal sebagai “surga batu giok Aceh” itu menghancurkan hampir seluruh permukiman warga.
Hanya dalam hitungan menit, air bercampur lumpur dan material kayu meluluhlantakkan rumah-rumah yang selama ini menjadi tempat warga berlindung. Kini, bangunan-bangunan itu tinggal serpihan, tumpukan kayu patah, dan lumpur tebal yang menutupi hamparan desa.
“Semua hilang. Rumah warga 98 persen rusak, banyak yang benar-benar lenyap tanpa jejak. Kami sekarang tidak punya apa-apa lagi. Dua ribu lebih warga terpaksa tinggal di pengungsian,” ujar Banta Sulaiman, salah seorang warga, dengan suara bergetar saat dihubungi, Sabtu (29/11/2025).
Sejak banjir menerjang, lebih dari dua ribu warga terpaksa mengungsi hanya dengan pakaian yang mereka kenakan. Sebagian besar tidak sempat menyelamatkan dokumen penting, pakaian, hingga foto-foto keluarga yang menyimpan kenangan berharga.
Lebih memprihatinkan, hingga hari ini Beutong Ateuh Banggalang masih sepenuhnya terisolasi. Jalan menuju kawasan tersebut putus, jembatan hanyut, dan akses transportasi lumpuh sehingga bantuan dari luar sangat sulit menjangkau para penyintas.
“Sebagian bantuan memang sudah datang, tapi masih banyak warga yang belum menerima apa-apa. Banyak anak-anak yang masih menunggu makanan. Jalan putus, tidak ada akses lain untuk menyalurkan bantuan lebih jauh,” tambah Banta.
Malam-malam di pengungsian pun dilalui warga dengan rasa dingin, lapar, dan ketidakpastian. Anak-anak tidur beralaskan lantai seadanya, sementara para orang tua hanya bisa menatap gelap dengan rasa cemas, berharap bantuan segera datang.
Kini, yang tersisa dari Beutong Ateuh Banggalang adalah dua hal duka mendalam dan secercah harapan tipis bahwa bantuan bisa segera menembus keterisolasian sebelum semuanya terlambat.







