Kibaan.co : Aceh Barat – Di balik rimbunnya hutan Gampong Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, seorang kakek berusia 93 tahun bernama Wahab masih menjalani hidup bersahaja sebagai petani. Warga setempat lebih mengenalnya dengan sebutan takzim, Kuk Meurah Kundo. Di usia senjanya, ia tetap membelah kesunyian hutan untuk merawat kebun cabai, memanen tebu, dan menjaga tanah leluhur.
Setiap hari, Kuk Meurah Kundo harus bertaruh nyawa untuk sekadar bersilaturahmi dengan kerabat di Dusun Durian. Satu-satunya akses adalah jembatan tali darurat yang terbuat dari jalinan kabel listrik bekas dan tali baja, membentang di atas sungai yang arusnya bisa berubah ganas kapan saja.
“Bagi saya ini sudah biasa. Sudah puluhan tahun seperti ini,” ujarnya pelan.
Di balik kesederhanaannya, tersimpan misteri tentang usia aslinya. Berdasarkan KTP, Kuk Meurah Kundo tercatat lahir 6 Januari 1933. Namun keluarga dan masyarakat meyakini usia biologisnya jauh lebih tua dari catatan administrasi.
Bukti sejarah lisan yang diingatnya adalah masa pendudukan Jepang. Ia mengaku pernah didatangi pejuang kemerdekaan Aceh untuk ikut mengangkat senjata.
“Saat itu saya baru saja selesai dikhitan dan baru sekitar 10 tahun,” kenangnya sambil menerawang.
Penuturan itu menjadi bukti ia adalah saksi hidup riak-riak perang di tanah Rencong.
Selain petani, Kuk Meurah Kundo juga dihormati sebagai tokoh spiritual. Warga kerap mendatanginya untuk meminta doa kesembuhan melalui tradisi “meurajah”, pengobatan alternatif khas Aceh. Di tengah minimnya akses ke fasilitas kesehatan modern, kehadirannya menjadi oase bagi warga Sikundo.
Saat disinggung masa depan, sorot matanya berubah serius. Ia menitipkan pesan khusus untuk generasi muda Aceh Barat.
“Tanah ini ditebus dengan darah dan air mata. Sikundo tempat keramat. Dulu ini benteng terakhir Cut Nyak Dhien bersembunyi dari Belanda. Pohon durian peninggalannya sampai sekarang masih ada,” katanya.
Ia berpesan agar anak muda tidak kehilangan arah di tengah gempuran zaman. Jaga kesehatan, lestarikan budaya Aceh, dan paling utama, kokohkan iman berlandaskan Islam.
Bagi Kuk Meurah Kundo, menjaga Gampong Sikundo bukan hanya soal merawat sejengkal tanah dari erosi. Lebih dari itu, ia ingin merawat martabat, sejarah besar, dan benteng spiritualitas untuk anak cucu.
Kisah Kuk Meurah Kundo menjadi pengingat bahwa di pedalaman Aceh, masih ada sosok yang hidup menjadi jembatan antara masa lalu, tradisi, dan harapan masa depan.







