Kibaan.co | Nagan Raya — Tim relawan gabungan dari Universitas Teuku Umar (UTU), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Politeknik Lhokseumawe berhasil menembus wilayah terisolir di Kampung Simpur, Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah, meski harus melewati tiga jembatan putus akibat banjir bandang.
Perjalanan menuju lokasi berlangsung penuh tantangan. Cuaca dingin, medan rusak, serta kondisi alam yang masih mencekam membuat proses distribusi bantuan memakan waktu hingga 11 jam
“Kami tidak merasakan lelah, justru haru dan bahagia melihat ketegaran warga. Selama sebulan ini, mereka baru menerima bantuan melalui helikopter sebanyak tiga kali,” ujar Ketua Tim Relawan, Heri Darsan melalui keterangan tertulis kepada media kibaan.co, Senin (29/12/2025).
Ia menjelaskan, Kampung Simpur yang berada di ujung Kecamatan Mesidah mengalami kerusakan cukup parah. Sejumlah bangunan rusak akibat terjangan kayu dan material banjir bandang yang datang secara tiba-tiba.
Tim relawan berangkat dari mess relawan di Rembele pada pukul 09.05 WIB menuju jembatan putus di Wih Kanis. Setibanya di lokasi, tim harus mencari kendaraan jenis pikap untuk melanjutkan perjalanan ke jembatan putus kedua. Proses bongkar muat logistik dilakukan sebanyak tiga kali di setiap titik jembatan yang rusak.
“Pada pukul 13.23 WIB, seluruh logistik berhasil dievakuasi ke seberang untuk trip pertama. Trip kedua menyusul pada pukul 16.45 WIB, sementara logistik pertama dilangsir menggunakan sepeda motor trail melewati jembatan darurat dari kayu,” jelas Heri.
Tim medis dari relawan UGM yang didampingi relawan UTU dan PNL Lhokseumawe tiba di Kampung Simpur pada pukul 17.20 WIB. Setibanya di lokasi, tim langsung membuka posko kesehatan dan melakukan pemeriksaan terhadap warga sakit serta ibu hamil.
“Dalam waktu singkat, tim dokter berhasil memeriksa 34 pasien,” ungkap Heri.
Logistik tahap kedua tiba pada pukul 19.35 WIB. Bantuan yang disalurkan meliputi beras, pampers, minyak goreng, ikan asin, sarden, selimut, mukena, sajadah, Al-Qur’an, iqra, obat-obatan, mesin genset, pembalut wanita, telur, serta biskuit.
Karena keterbatasan akses dan jarak tempuh yang jauh, tim relawan dibagi menjadi dua. Tim inti yang terdiri dari dua tim medis UGM, tiga relawan UKM PK UTU, dan satu relawan PNL Lhokseumawe menuju Kampung Simpur, sementara tim kedua bertahan di Wih Kanis untuk mengatur distribusi logistik.
“Sekitar pukul 21.21 WIB seluruh tim kembali berkumpul dan kembali ke mess relawan di Rembele,” kata Irsadi Aristora, salah seorang anggota tim.
Meski kelelahan, seluruh relawan mengaku puas karena misi kemanusiaan berjalan lancar. Saat ini, tim masih menyiapkan tahap lanjutan berupa pemasangan alat penjernih air bersih dari UGM.
“Air di Kampung Simpur masih keruh dan belum layak digunakan. Alat penjernih air akan segera dipasang agar bisa langsung digunakan warga,” tutup Heri Darsan.







