Kibaan.co : Aceh Barat – Aktivitas penyediaan kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki efek ekonomi yang lebih luas daripada sekadar transaksi pembelian bahan makanan.
Selain pedagang ayam dan sayuran, sejumlah pelaku usaha yang bergerak dalam distribusi, perdagangan ikan, telur dan pengangkutan bahan pangan juga berpotensi mendapatkan manfaat dari meningkatnya kebutuhan program tersebut.
Rantai pasok makanan membutuhkan proses panjang sebelum bahan pangan sampai ke tempat pengolahan. Ada pedagang yang membeli dari petani atau peternak, distributor yang mengangkut barang, hingga pedagang pasar yang menyediakan bahan tambahan.
Zulkifli, distributor bahan pangan di Aceh Barat, mengatakan meningkatnya kebutuhan bahan pangan secara otomatis membutuhkan sistem distribusi yang lebih aktif
“Setiap kali ada kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar, tentu ada proses pengangkutan dan distribusi. Ini menjadi peluang bagi usaha transportasi dan distributor
lokal,” kata Zulkifli
Menurutnya, pelaku usaha distribusi dapat membantu menghubungkan petani, peternak dan pedagang dengan pembeli dalam jumlah lebih besar
“Petani tidak selalu bisa mengirim sendiri. Begitu juga pedagang kecil. Di situlah distributor dan jasa angkutan dibutuhkan,” ujarnya
Sektor perikanan juga memiliki peluang. M. Yusuf, pedagang ikan di Meulaboh, mengatakan produk perikanan lokal dapat menjadi salah satu komoditas yang berpotensi mendukung kebutuhan pangan bergizi apabila sesuai dengan menu dan ketentuan yang
ditetapkan
“Ikan merupakan sumber protein dan banyak tersedia di Aceh Barat. Kalau ada kebutuhan ikan dari program makanan bergizi, nelayan dan pedagang lokal tentu bisa mendapatkan tambahan pasar,” kata Yusuf
Ia mengatakan tambahan permintaan akan memberikan dampak kepada nelayan. “Kalau ikan lebih banyak terserap, nelayan punya pasar yang lebih jelas. Pedagang juga lebih mudah menjual hasil tangkapan,” ujarnya.
Sementara itu, Rosdiana, pedagang buah di Meulaboh, menilai kebutuhan makanan bergizi juga dapat membuka peluang bagi pedagang buah lokal.
“Buah merupakan salah satu bahan pangan yang bagus untuk memenuhi kebutuhan gizi. Kalau produk buah lokal digunakan sesuai kebutuhan program, pedagang tentu mendapatkan pasar tambahan,” katanya.
Menurut Rosdiana, hasil pertanian lokal dapat lebih bernilai apabila memiliki pasar yang jelas. “Kadang buah banyak saat musim panen. Kalau ada tambahan pembeli, tentu membantu menyerap hasil petani,” ujarnya.
Tidak hanya perdagangan, jasa pengangkutan juga ikut menjadi bagian dari rantai distribusi.
Faisal, pemilik usaha angkutan barang, mengatakan kegiatan distribusi bahan pangan membutuhkan kendaraan dan tenaga pengangkut.
“Bahan makanan tidak mungkin berpindah sendiri. Ada biaya angkut, ada tenaga kerja dan ada kendaraan. Kalau aktivitas pengadaan meningkat, jasa angkutan juga memiliki peluang,” katanya.
Faisal mengatakan dampak ekonomi tersebut sering kali tidak terlihat secara langsung, tetapi sebenarnya berkaitan dengan aktivitas program.
“Orang biasanya hanya melihat bahan makanan yang dibeli. Padahal di belakangnya ada sopir, buruh angkut dan pemilik kendaraan,” ujarnya.
Menurut Zulkifli, semakin banyak pelaku usaha lokal yang terlibat, semakin panjang pula rantai manfaat ekonomi yang tercipta.
“Kalau bahan pangan dibeli dari petani lokal, dibawa oleh angkutan lokal, kemudian dipasarkan melalui pedagang lokal, maka banyak pihak yang mendapatkan penghasilan,” katanya.
Para pelaku usaha berharap kebutuhan MBG dapat memberi ruang bagi pemasok lokal dengan tetap memperhatikan kualitas, harga dan kontinuitas.
“Yang penting sistemnya jelas. Kami sebagai pelaku usaha siap memenuhi kebutuhan kalau memang ada kesempatan dan persyaratannya bisa dipenuhi,” kata Zulkifli.
Bagi masyarakat pelaku usaha, keberadaan MBG dapat menjadi peluang untuk memperkuat ekosistem ekonomi lokal. Transaksi yang terjadi tidak berhenti pada satu
pedagang, melainkan dapat bergerak dari petani dan peternak hingga distributor dan tenaga kerja.
“Kalau semua saling terhubung, program seperti ini bisa memberi manfaat yang lebih luas kepada masyarakat,” ujar Faisal.
Dengan demikian, dampak ekonomi MBG di Aceh Barat tidak hanya dapat dilihat dari meningkatnya penjualan satu jenis bahan pangan. Pergerakan kebutuhan makanan juga berpotensi menghidupkan jasa distribusi, perdagangan ikan, buah, telur serta usaha pengangkutan yang mendukung rantai pasok.







