Kibaan.co | Bener Meriah — Perjalanan Tim Relawan Universitas Teuku Umar (UTU) menuju lokasi terdampak bencana longsor dan banjir di Kabupaten Bener Meriah menghadapi tantangan berat. Jalan berlumpur, hujan lebat, dan akses terputus memaksa relawan menempuh jalur ekstrem, bahkan berjalan kaki demi menyalurkan bantuan kepada warga pengungsian.
Tim relawan berangkat dari Kampus UTU Meulaboh pada 24 Desember 2025. Namun, di tengah perjalanan, tepatnya di Kampung Kuyun, Kecamatan Celala, Aceh Tengah, tim terpaksa bermalam di kebun kopi milik warga karena sejumlah kendaraan tidak mampu melintasi jalan licin dan berlumpur akibat hujan deras.
Setelah kondisi jalan mulai mengering keesokan harinya, Rabu (25/12/2025), tim kembali melanjutkan perjalanan menuju Bandara Rembele, Kabupaten Bener Meriah. Sesampainya di wilayah tersebut, Tim Relawan UTU langsung bergerak menuju lokasi terdampak terparah berdasarkan arahan dan koordinasi dengan pemerintah setempat, termasuk daerah yang baru dua hari terakhir dapat diakses.
Berdasarkan hasil pendataan sementara, tim mencatat sebanyak 360 jiwa mengungsi di tiga titik pengungsian, yakni di Pesantren, Bale Reje Kampung Pantan Kemuning, serta Kampung Tunyang.
Distribusi bantuan pertama dilakukan pada Kamis pagi (26/12/2025) di lokasi pengungsian Pesantren dan berjalan lancar. Namun, saat menuju titik kedua di Bale Reje Kampung Pantan Kemuning, hujan kembali turun sehingga kendaraan bantuan tersangkut di jalur berlumpur. Demi keselamatan, tim memutuskan mengalihkan distribusi ke titik ketiga dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer menuju Kampung Tunyang.
Di lokasi tersebut, Tim Relawan UTU bergabung dengan Tim Relawan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terdiri dari tenaga medis serta relawan dari Politeknik Negeri Lhokseumawe. Ketiga tim sejak awal terus bersama melakukan asesmen dan distribusi bantuan di lapangan.
Dalam kondisi keterbatasan fasilitas, pos kesehatan darurat tetap dibuka meski hujan lebat mengguyur. Dengan penerangan seadanya menggunakan senter, tim medis dari UTU, UGM, dan Politeknik memberikan layanan pemeriksaan kesehatan bagi warga pengungsian di Kampung Pantan Kemuning dan Kampung Tunyang.
Ketua Tim Relawan PKM UTU, Heri Darsan, menyampaikan bahwa pada hari berikutnya tim kembali berupaya menembus wilayah terdampak untuk menjangkau titik pengungsian kedua di Bale Reje Kampung Pantan Kemuning.
“Kami akan kembali menerobos lokasi tersebut untuk mendistribusikan bantuan logistik pangan, sarana pendidikan, peralatan air Robin, generator, mukena, sajadah, kain sarung, selimut, ikan asin, biskuit, serta obat-obatan. Target distribusi kami mencakup empat titik pengungsian di Kabupaten Bener Meriah,” ujarnya.
Sementara itu, Irsadi Aristora, mewakili seluruh relawan yang bertugas, memohon doa dari masyarakat agar seluruh tim relawan yang berjumlah 25 orang dapat menjalankan tugas dengan lancar dan tetap sehat.
“Tim relawan terdiri dari dosen dan tenaga kependidikan UTU sebanyak tujuh orang, sembilan mahasiswa relawan UKM PK UTU, satu anggota UKM KSR PMI, tiga utusan UGM, serta satu relawan dari Politeknik Negeri Lhokseumawe. Kami mohon doa agar seluruh relawan selalu dalam keadaan sehat dan tetap semangat dalam menjalankan misi kemanusiaan ini,” ungkapnya.







