Banta Ade Benarkan Kondisi 500 Hektare Sawah Belum Bisa Digarap, Warga Beutong Ateuh Masih Bertahan di Huntara Bocor

Foto: Tokoh Masyarakat Beutong Ateuh ,Desa Babah Suak, Banta Ade

Kibaan.co : Nagan Raya –  Kondisi korban banjir bandang di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, hingga kini masih memprihatinkan. Hampir sembilan bulan pascabencana yang terjadi sejak November 2025, sebagian masyarakat masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari lahan pertanian yang belum dapat digarap hingga keterbatasan tempat tinggal yang layak, Jum’at (14/08/2026)

Tokoh masyarakat Babah Suak, Banta Ade membenarkan kondisi yang sebelumnya disampaikan Ketua Forum Keuchik Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Samsuar, S.Pd, atau yang akrab disapa Keuchik Wan

Menurut Banta Ade, apa yang disampaikan Samsuar mengenai kondisi masyarakat pascabencana memang sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan

“Betul, apa yang disampaikan Ketua Forum Keuchik itu memang fakta di lapangan. Sampai sekarang masyarakat masih merasakan kesulitan pascabencana, terutama terkait lahan persawahan dan tempat tinggal,” kata Banta Ade

Ia menyebutkan, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang memiliki sekitar 500 hektare areal persawahan yang tersebar di empat desa. Namun, akibat banjir bandang, sejumlah lahan pertanian mengalami kerusakan sehingga belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat

Sebelumnya, Samsuar menyampaikan bahwa sekitar 37 hektare sawah yang rusak akibat bencana belum mendapatkan penanganan sebagaimana yang diharapkan masyarakat

Banta Ade menilai persoalan tersebut sangat berdampak terhadap kehidupan warga karena mayoritas masyarakat setempat menggantungkan kebutuhan ekonomi keluarga dari sektor pertanian

“Kalau sawah belum bisa digarap, tentu masyarakat kehilangan sumber penghasilan. Ini bukan persoalan kecil karena pertanian merupakan salah satu sumber utama kehidupan masyarakat di Beutong Ateuh,” ujarnya

Selain persoalan sawah, Banta Ade juga membenarkan bahwa sebagian warga korban bencana masih bertahan di Hunian Sementara (Huntara) dan belum mendapatkan kepastian mengenai Hunian Tetap (Huntap)

Kondisi Huntara yang ditempati warga juga dinilai belum ideal untuk dijadikan tempat tinggal dalam jangka panjang. Bahkan, saat hujan turun, sejumlah Huntara mengalami kebocoran sehingga menambah kesulitan masyarakat

“Warga masih terlunta-lunta di Huntara. Kondisinya sempit dan ketika hujan ada yang bocor. Masyarakat tentu berharap segera mendapatkan tempat tinggal yang layak,” kata Banta Ade

Menurutnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan untuk tempat tinggal, tetapi juga membutuhkan kepastian pemulihan sumber mata pencaharian. Perbaikan sawah, irigasi, pembangunan Huntap, serta kejelasan bantuan bagi korban bencana harus segera mendapat perhatian pemerintah

Banta Ade berharap pemerintah dapat mempercepat penanganan persoalan pascabencana di Beutong Ateuh Banggalang sehingga masyarakat tidak terus berada dalam kondisi ketidakpastian

“Kami berharap pemerintah benar-benar melihat kondisi masyarakat di lapangan. Masyarakat ingin kembali hidup normal, memiliki rumah yang layak dan bisa kembali menggarap sawah untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” pungkasnya

Selain itu Ujar Banta Ade, adapun uang bantuan tunai pasca bencana ada sekitar 73 Kartu Keluarga yang belum mendapakan sepeser pun hingga saat ini.

“Bukan hanya persoalan sawah, Huntara bahkan uang bantuan hingga saat ini belum rata, ada sekitar 73 KK belum menerima Sepeserpun”, Katanya

Sebanyak 73 KK tersebut merupakan warga Benar-benar kehilangan rumah,harta benda lainnya salah satunya Ridwan satu warga babah suak”,

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *