Kibaan.co : Nagan Raya – Sejak November 2025 Hampir Sembilan Bulan Pasca Bencana Nasib korban banjir bandang di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, hingga kini masih jauh dari kata pulih.
Ketua Forum Keuchik Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Samsuar, S.Pd, atau sering disapa Keuchik Wan mengatakan salah satu persoalan paling mendesak adalah kerusakan lahan persawahan yang menjadi tumpuan hidup masyarakat
Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang memiliki sekitar 500 hektare areal persawahan yang tersebar di empat desa utama. Namun, akibat banjir bandang, sedikitnya 37 hektare sawah mengalami kerusakan dan hingga kini belum mendapat penanganan sebagaimana yang diharapkan masyarakat
“Sejak November 2025 sampai sekarang, bantuan dari Pemerintah Pusat untuk perbaikan sawah yang rusak sekitar 37 hektare belum juga terealisasi,” kata Samsuar
Kondisi tersebut membuat warga korban banjir kesulitan kembali menggarap lahan. Padahal, bagi masyarakat Beutong Ateuh, sawah bukan sekadar lahan pertanian, tetapi menjadi sumber utama pangan sekaligus mata pencaharian keluarga
Persoalan semakin pelik karena infrastruktur pendukung pertanian juga belum memadai. Warga masih kesulitan mendapatkan akses irigasi sehingga pemulihan sektor pertanian pascabencana berjalan tersendat
Di tengah kondisi itu, warga juga masih menunggu kepastian mengenai Hunian Tetap (Huntap). Hingga kini sebagian korban bencana masih bertahan di Hunian Sementara (Huntara) dengan kondisi yang dinilai tidak layak untuk ditempati dalam jangka panjang
Huntara yang sempit bahkan dilaporkan mengalami kebocoran ketika hujan mengguyur kawasan tersebut. Kondisi ini membuat warga harus kembali berhadapan dengan persoalan dasar meski bencana telah berlalu berbulan-bulan
“Kalau hujan, Huntara bocor. Kondisinya sempit dan tentu sangat menyulitkan warga. Sampai sekarang Huntap juga belum kami terima,” ujar Samsuar
Ironisnya, sebagian warga bahkan terpaksa membangun rumah secara mandiri dengan kemampuan seadanya karena tidak ingin terus bergantung pada Huntara
Warga sebelumnya mendapat informasi akan adanya ganti rugi atau bantuan pemerintah terkait rumah yang terdampak bencana. Namun, hingga kini kepastian mengenai mekanisme, besaran, maupun kapan ganti rugi tersebut direalisasikan belum jelas
Kondisi ini menimbulkan keresahan di tengah masyarakat yang sudah berbulan-bulan berjuang memulihkan kehidupan mereka secara mandiri
Bagi warga, persoalan pascabencana bukan hanya soal membangun kembali rumah, tetapi juga mengembalikan sumber penghidupan. Ketika sawah rusak, irigasi tidak tersedia, rumah tetap berada di Huntara, dan kepastian bantuan belum jelas, maka beban korban bencana menjadi semakin berat
Samsuar berharap pemerintah tidak lagi membiarkan masyarakat korban banjir berlarut-larut dalam ketidakpastian. Menurutnya, percepatan perbaikan sawah, pembangunan Huntap, penyelesaian persoalan irigasi serta kejelasan ganti rugi harus menjadi perhatian serius pemerintah
Masyarakat Beutong Ateuh tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin kembali hidup normal, memiliki tempat tinggal yang layak, serta kembali menggarap sawah untuk memenuhi kebutuhan keluarga
Hampir sembilan bulan pascabencana, warga masih menunggu. Yang menjadi pertanyaan, sampai kapan mereka harus terus menunggu untuk mendapatkan hak dan kepastian pemulihan pascabencana..? Tanya Samsuar







