17 Hari Ramadhan, Warga Beutong Ateuh Sahur dan Berbuka dalam Gelap

Kibaan.co| Nagan Raya – Memasuki hari ke-17 bulan Ramadhan, ratusan warga di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, masih harus menjalani sahur dan berbuka puasa dalam kondisi gelap di tenda pengungsian.

Kondisi ini terjadi sejak bencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025 lalu. Hingga kini, sebagian warga yang terdampak masih tinggal di tenda darurat tanpa aliran listrik.

Samsuardi, salah seorang pemuda Beutong Ateuh Banggalang, mengatakan masyarakat saat ini terpaksa menggunakan lilin dan lampu teplok atau lampu tradisional yang menggunakan api untuk penerangan saat berbuka dan sahur.

“Ratusan masyarakat yang mengungsi di tenda darurat masih berbuka dan sahur menggunakan lilin serta lampu panyet,” kata Samsuardi kepada wartawan, Kamis (6/3/2026).

Menurutnya, penerangan sangat dibutuhkan terutama selama bulan Ramadhan, karena aktivitas ibadah dan makan sahur dilakukan pada malam hingga dini hari.

“Coba dibayangkan bagaimana masyarakat berbuka dan makan sahur dalam gelap gulita di tenda pengungsian, apalagi bagi warga yang tinggal jauh dari tetangga,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi warga yang hingga kini masih bertahan di tenda darurat meski bencana telah terjadi hampir empat bulan lalu.

“Ini sudah masuk hari ke-17 Ramadhan di Beutong Ateuh. Hampir empat bulan pasca banjir, masih banyak masyarakat tinggal di tenda tanpa listrik,” tambahnya.

Samsuardi menjelaskan, sebelumnya warga sempat mendapat bantuan penerangan dari genset desa yang menyuplai listrik hingga pukul 24.00 WIB. Namun dalam 17 hari terakhir selama Ramadhan, genset tersebut tidak lagi berfungsi.

“Selama Ramadhan di Desa Kuta Teungoh belum ada listrik. Sebelum Ramadhan sempat ada genset desa yang hidup sampai jam 12 malam untuk tenda warga, tapi sekarang sudah 17 hari genset itu mati, kami juga kurang tahu apakah rusak atau apa,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah untuk mengalirkan listrik ke lokasi pengungsian maupun ke permukiman baru warga agar aktivitas ibadah selama Ramadhan dapat berjalan lebih nyaman.

“Kami mohon kepada pemerintah terkait agar segera membantu pengaliran listrik ke titik pengungsian warga, supaya masyarakat lebih nyaman beribadah, terutama saat sahur dan berbuka,” pungkasnya.

Diketahui, banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025 lalu mengakibatkan sejumlah infrastruktur rusak serta ratusan rumah warga hanyut terbawa arus. Dua permukiman dari empat desa di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang terpaksa direlokasi ke kawasan pegunungan.

Saat ini, sebagian warga memilih menetap di lokasi pengungsian tersebut dan berencana menjadikannya sebagai permukiman baru.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *